Arsip

Posts Tagged ‘reksadana’

Pengalaman Investasi di Deposito, Reksadana, dan Saham

September 8, 2009 12 komentar

Setelah mengetahui bahwa aku mempunyai beberapa tabungan di bank, orang tuaku menyarankan mendepositokan beberapa dana yang tidak terpakai. Tahun 1998 adalah tahun krisis moneter. Banyak bank yang tutup akibat penarikan dana besar-besaran. Namun pemerintah turun tangan untuk menjamin dana tabungan nasabah di sejumlah bank. Ketika itu aku ketar-ketir juga kalau dana hasil jerih payahku dari membuat layout cover buku lenyap dalam sekejap. Namun karena bunga deposito saat itu mencapai 50% per tahun, akhirnya aku coba buka deposito di BCA. Toh dana tersebut memang tidak terpakai, lagi pula kalau beli barang-barang konsumsi seperti komputer dan elektronik harganya melejit karena sudah menggunakan kurs dollar amerika. Dana yang kusimpan di deposito berkembang biak setahun, dan beruntung ekonomi mulai pulih sehingga dana yang kusimpan tidak lenyap.

Tahun 2000, bunga deposito rontok satu persatu hingga di bawah 20%. Suatu hari aku membaca iklan di surat kabar, ada investasi seperti deposito namun bunganya di atas deposito. Lalu aku datangi perusahaan tersebut yaitu PT Bahana TCW Investment. Setelah tanya-tanya, aku dapat kesimpulan ternyata produk tersebut adalah reksadana pendapatan tetap Bahana Dana Abadi. Reksadana ini merupakan kumpulan dana masyarakat yang diinvestasikan ke surat obligasi atau surat utang perusahaan swasta atau pemerintah. Lagi-lagi setelah tahun cara buka reksadana, aku jajal lagi ke reksadana saham Bahana Dana Infrastruktur. Ada perumpamaan jangan menyimpan beberapa telur dalam satu keranjang, ini maksudnya adalah jangan menyimpan uang pada satu tempat. Berdasarkan hal tadi, maka aku buka lagi rekening reksadana di Schroeder dan Manulife. Pada saat itu tahun 2000, indeks harga saham gabungan jakarta (IHSG) masih di bawah 1000. Tahun 2005, beberapa reksadana aku “pecah telur” untuk keperluan keluarga. Lumayan hasil investasi dari reksadana melaju sampai 20-30% per tahun.

Setelah menjajal reksadana, ada teman di kantor yang ternyata senang bermain saham kecil-kecilan lewat indofinanz. Memang benar, modal untuk bermain saham cukup besar, seseorang wajib mempunyai dana di atas 20juta. Namun ada perusahaan sekuritas seperti indofinanz yang membolehkan investor menempatkan modal sebesar 5juta (pada tahun 2002). Lagi-lagi aku suka mencoba sesuatu yang belum pernah dialami. Jajal beli saham pertambangan ketika di harga 300-an, jual ketika harga 500-an. Kadang-kadang lagi beruntung, kadang rugi. Ternyata main saham memang membuat jantung berdebar lebih kencang karena perlu mengawasi pergerakkan harga saham, sedangkan aku sendiri tak banyak waktu untuk memonitoring harga saham.

Inti dari pengalaman ini adalah aku berani mencoba suatu produk investasi seperti reksadana dan saham di kala ekonomi belum pulih. Ya tentu saja, dana yang dipakai bukan dana sehari-hari. Aku siap kehilangan uang bila ternyata ekonomi ambruk. Ikhlas saja bila kehilangan uang untuk investasi dan tak perlu senewen. Yang paling penting sekali lagi adalah jangan gunakan uang kebutuhan sehari-hari untuk investasi!