Arsip

Archive for the ‘Investasi’ Category

Tips Cara membeli Mobil Baru

April 6, 2010 8 komentar

Punya keinginan membeli mobil merupakan salah satu kebutuhan masyarakat saat ini. Tergantung anggaran yang Anda miliki, ada 2 pilihan mobil :  mobil bekas atau mobil baru.

Tulisan saya kali ini mengulas tentang bagaimana membeli mobil baru dengan prosedur yang benar.

Langkah Pertama – Siapakan Dana minimal 20% dari Harga Mobil

Siapkan anggaran untuk membeli mobil. Ini merupakan jawaban yang bodoh. Di mana-mana kalau mau beli barang kudu pakai uang. Namun kita bisa membeli mobil dengan uang lebih sedikit. Uang yang sedikit ini kita sebut sebagai uang muka atau Down Payment.

Berapa DP yang diperlukan untuk membeli mobil baru? Tergantung dari harga mobilnya. Misalkan harga mobil 200juta. Saat ini dealer mobil lagi gencar promosi pembelian mobil dengan DP rendah 10-20%. Bahkan ada yang DP 0%. Jadi apabila harga mobil 200juta, maka DP 10% dari 200juta adalah 20juta. DP 10% merupakan dana yang paling minim, maka saya anjurkan paling tidak punya uang 20%  dari harga mobil.

Langkah Kedua – Datang ke Dealer Mobil

Ada banyak dealer mobil dengan berbagai jenis kendaraan. Ada

Di tempat ini kita melihat-lihat fisik mobil bahkan bila diijinkan kita bisa test drive. Kita akan dipandu oleh sales mobil mengenai spesifikasi mobil, keunggulan dan kegunaannya, dan tentu saja harga mobilnya, siapa tahu sales ini akan memberikan diskon dan berbagai bonus untuk Anda. Simpan kartu nama dan nomor kontak sales tersebut.

Langkah Ketiga – Berhitung Cicilan

Bila sudah cocok dengan mobil pilihan yang akan dibeli, sekarang saatnya menghitung cicilan. Biasanya cicilan mobil dibatasi sampai dengan 5 tahun atau 60 bulan. Semakin panjang periode cicilan, bunganya semakin tinggi.

Mobil yang dicicil, wajib menggunakan asuransi kendaraan. Maka ketika kita membeli mobil, kita juga membayar uang untuk asuransi mobil kita. Jadi Harga Mobil = Harga Jual Mobil + Asuransi Selama Cicilan.

Untuk melihat simulasi cicilan silakan download file excel di sini.

Langkah Keempat – Tanda Jadi

Ketika sudah mantap untuk membeli mobil, kita kontak sales mobil dan setor uang sebagai tanda jadi. Dari sales mobil ini akan diberikan Surat Pesanan Kendaraan (SPK). Isi dari SPK berupa jenis kendaraan, harga mobil setelah diskon dan ketentuan lainnya.  Siapkan fotokopi KTP sebagai bukti pemesanan mobil. Identitas di KTP akan digunakan sebagai acuan dalam STNK dan BPKB.

Setelah cocok dengan cara pembayaran maka selanjutnya tinggal menunggu mobil untuk diurus surat-suratnya. Perlu sekitar 2 minggu untuk mendapatkan nomor polisi mobil baru. Nah Anda akan diberi kabar oleh sales apakah mobilnya akan diambil sendiri atau di antar ke rumah.

Langkah Kelima – Surat-surat Kendaraan

Setelah mobil diterima maka kita akan mendapatkan surat-surat berikut ini

  • Kuitansi (2 minggu setelah tanggal pembelian)
  • Faktur (2 minggu setelah tanggal pembelian)
  • STNK (2 minggu setelah tanggal pembelian)
  • BPKB (paling lama 6 bulan setelah tanggal pembelian)
  • Buku Panduan
  • Buku Servis

Bila Anda mencicil mobil, maka BPKB akan ditahan oleh kreditor hingga lunas.

Langkah Keenam – Cek Fisik Mobil Baru

Ketika mobil akan diambil atau di antar ke rumah perhatikan kondisi fisik mobil. Apakah ada yang penyok /baret ,  kondisi aki, kondisi ac, semuanya cek list ini ada di buku servis kendaraan Anda, dan ditandatangani oleh sales mobil dengan persetujuan Anda. Pastikan pula bonus-bonus yang dijanjikan oleh sales, ada pada Anda.

Langkah Ketujuh – Safety Driving

Selamat menikmati mobil baru, ingat selama 1.000 km mobil Anda sebaiknya tidak di bawa kebut-kebutan atau rem mendadak. Setelah 1.000 km biasanya Anda akan diminta untuk datang ke bengkel untuk pertama kalinya. Catat semua keluhan Anda ketika berkendara selama 1.000 km, bila ada yang ganjil tanyakan dan minta solusinya.

Selamat berkendara!

Bijak Memilih Rumah & KPR

Oktober 23, 2009 5 komentar

Salah satu kegiatan yang tak luput di pagi hari adalah membuka lembaran harian Kompas. Setiap hari Jumat Kompas, kebanjiran iklan-iklan penawaran dari berbagai hypermarket. Selain itu ada pula iklan-iklan dari para pengembang perumahan yang mulai marak menawarkan produknya. Besok rencananya akan dibuka Real Estate Expo di Jakarta Convention Center (JCC) Hall A dari tanggal 24 Oktober hingga 1 November 2009.

Seiring dengan munculnya pemerintahan baru, ada harapan bahwa di masa depan ekonomi akan lebih baik. Para pengembang optimis pasar properti akan membaik mulai tahun 2010. Dengan BI Rate (suku bunga Bank Indonesia) anteng di 6.5%, diharapkan bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) turun menjadi 12% ke bawah. Para pengembang sendiri berharap bunga KPR lebih rendah dari sebelumnya yang mencapai rata-rata 15%. Dengan turunnya bunga maka produk yang dijual akan lebih laku. Bila produk gampang dijual, maka apabila permintaan meningkat harga akan naik (Teori Ekonomi Dasar : Supply and Demand).

Kebutuhan dasar manusia adalah sandang, pangan dan papan. Nah papan atau rumah, bagi sejumlah masyarakat Indonesia merupakan kebutuhan namun juga merupakan beban. Kebutuhan akan rumah yang layak huni dan sehat. Beban karena harga rumah makin mahal. Untuk itu mari berbagi pengalaman dalam bijak memilih rumah dan bijak memilih kredit perumahan.

Bijak Memilih Rumah
Mari kita buka dengan perumpamaan pasangan muda berumur 30-an. Romeo dan Juliet merupakan pasangan yang baru menikah. Mereka berdua bekerja di kota metropolitan Jakarta. Setelah menikah untuk sementara waktu mereka tinggal di pondok mertua indah yang dekat dengan tempat mereka bekerja. Namun mereka punya prinsip untuk pisah dengan keluarga orang tua, ingin hidup mandiri. Alhasil mereka mencari dan mendapatkan rumah kontrakan yang mereka cicil kira-kira 20% dari total pendapatan mereka (ambil asumsi total gaji mereka adalah 5juta). Sambil mengontrak, mereka pun juga berkeinginan untuk memiliki rumah sendiri.

Memilih rumah bagaikan mencari jodoh. Sebelum kita membeli rumah, sebaiknya kita menetapkan dulu tujuan rumah yang akan dibeli.

1. Tujuan membeli rumah :
a. Ditempati
b. Disewakan
c. Dijual kembali

Setelah menetapkan tujuan rumah, selanjutnya menetapkan lokasi misalnya

2. Lokasi rumah :
a. dekat kantor/tempat usaha
b. dekat stasiun, terminal, akses jalan tol
c. lingkungan yang tenang dan jauh dari kesibukan

Berkaitan dengan poin nomor 2, tentunya bila dekat dengan stasiun, terminal atau jalan tol biasanya harga akan lebih mahal.
Dekat dengan kantor biasanya di tengah kota, harganya selangit. Dus karena akibat di atas maka kita perlu menetapkan anggaran.

3. Tetapkan anggaran :
a. rumah di bawah 100juta
b. rumah antara 100-200juta
c. rumah di atas 200juta

Mari kita buat simulasi.
Rumah 100jutaan di tengah kota seperti sudah jarang ada. Di pinggiran Jakarta pun tanah dan bangunan sekitar 60m2, harganya sudah mencapai 200juta. Radius 40km dari Jakarta, misalnya daerah Cileungsi (Bogor, Timur Cibubur), Cisauk (Banteng, Barat Serpong), Cibinong (Bogor, Selatan Depok), Cikarang (Bekasi, Timur Bekasi), harganya ada yang berkisaran 100juta. Okaylah, misalnya rumah yang kebeli dengan anggaran 100juta ternyata di Cileungsi. Selanjutnya perlu dipikirkan transportasi ke tempat kerja.

Mau naik bus? Bersiap-siaplah naik turun beberapa kali dan mengeluarkan ongkos lebih. Dari depan rumah naik ojek ke depan gerbang rumah. Lalu naik angkutan ke terminal bus. Dari terminal bus ke pusat kota, dan mungkin turun lagi untuk naik angkutan lain. Waktu yang ditempuh bisa 2 jam di jalan.

Mau naik kereta? Ini adalah angkutan massal yang ideal namun belum nyaman dan tepat waktu. Untuk perumahan yang dekat dengan stasiun kereta memang merupakan pertimbangan utama bagi mereka yang kerja di pusat kota.

Mau naik kendaraan pribadi? Motor? Siapkan fisik dan mental. Memang motor merupakan kendaraan yang cepat dan hemat bahan bakar. Waktu tempuh bisa lebih cepat dari pada bus. Namun semakin ke pusat kota semakin banyak pula yang berpikiran sama yakni lebih cepat naik motor. Mobil? Memang lebih nyaman. Tidak kepanasan dan kehujanan. Sayang jalan tol semakin mahal tiap 2 tahun rencananya akan naik sesuai inflasi (inflasi + keuntungan). Tarif jalan tol berbeda-beda, jadi jangan berharap kenaikannya tetap. Ambil contoh bila lokasi rumah di daerah Jatiasih, Bekasi sedangkan kantor di Thamrin, sebelum naik, tarif tol dalam kota 5.500, tol JORR 6.000, masuk jagorawi 1.500 (total 13.000) ketika naik menjadi 6.500, 7.000, dan 2.000 (total menjadi 15.500). Kenaikan mencapai 19%. Sedangkan inflasi 2 tahun mencapai 15%. 4%-nya kemana hayoooo?

Jadi pertimbangkan dengan baik. Akses dekat dengan jalan tol, pasti perumahan tersebut penghuninya bakal menggunakan mobil. Tambah macet di pintu masuk tol pada pagi hari. Dekat stasiun dan terminal bus adalah pilihan yang terbaik, daripada melaju dengan sepeda motor maupun mobil pribadi. Pulang-pergi 80-100km sehari dengan waktu tempuh 2-3 jam di jalan plus street justice tentu kurang menyenangkan.

Pilihan lain adalah membeli apartemen menengah. Harganya sekitar 150-200jutaan. Harga murah tentu luasnya hanya berkisar 20m2.

Bijak Memilih Kredit Perumahan
Setelah menetapkan rumah yang akan dibeli, selanjutnya menyiapkan dana untuk pembelian rumah. Dalam membeli rumah ada beberapa cara yakni Tunai (Cash), Tunai Bertahap, dan KPR. Beli Tunai dan Tunai Bertahap sebaiknya melihat dulu pengembang perumahan tersebut. Syukur-syukur mereka sudah mulai membangun. Jadi ada uang ada barang. Perhatikan pula surat-surat seperti Sertifikat (SHM/HGB), Akta Jual Beli (AJB), Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Saat ini bank-bank memberi kemudahan dalam menyalurkan kredit perumahan. Bank bekerjasama dengan pengembang perumahan memberikan penawaran menarik biasanya dengan bunga rendah dan tetap selama 1 tahun. Ingat bunga 1 tahun tetap. Padahal beli rumah, nyicilnya bisa 10-20 tahun. Nah setelah 1 tahun, bunga akan naik turun. Misalnya bunga Fix 7% tahun pertama. Tahun kedua-ketiga dan seterusnya bisa 12%, 13%, atau bisa 15%. Membeli rumah dengan KPR, bank mensyaratkan untuk uang muka sekitar 20%, sisanya yang 80% akan kita cicil sampai lunas. Untuk persyaratan KPR biasanya bank meminta KTP, Kartu Keluarga (apabila KK belum ada, maka KK orang tua dari suami dan KK orangtua dari istri), dan Surat Pesanan dari pengembang. Selain itu untuk melihat apakah layak kredit atau tidak, maka aliran kas (atau Cash Flow) pribadi atau rumah tangga perlu dilihat oleh bank. Untuk karyawan biasanya menggunakan slip gaji atau keterangan penghasilan dari perusahaan. Untuk wiraswasta/profesional dilihat status transaksi tabungan/dana di bank. Dari transaksi tabungan di bank maka bank bisa melihat kapan dana masuk dan keluar. Apakah dana masuk sesuai dengan gaji/penjualan yang diterima. Itulah pentingnya aliran kas.

Harga rumah biasanya dikenakan PPN (pajak pertambahan nilai). Selain itu ada biaya-biaya lain seperti biaya BPHTB (bea perolehan hak atas tanah dan bangunan), biaya notaris untuk AJB, Sertifikat (SHM/HGB), IMB. PPnBM (pajak barang mewah) apabila luas bangunan melebihi 300m2. Tambahan lagi bila memilih KPR Bank, akan ada biaya administrasi KPR, biaya provisi, dan asuransi. Jadi apabila ada iklan harga mulai 140juta. Siap-siaplah merogoh 5-10juta lagi untuk biaya-biaya tersebut di atas.

Untuk menganalisa agar kita bijak memilih kredit perumahan ada beberapa tools yang bisa gunakan.
1. Simulasi Angsuran (asumsi bunga tetap sepanjang tahun)
Cobalah simulasi angsuran dari Kontan Online.

2. Simulasi Angsuran (asumsi bunga naik turun sepanjang tahun)
Ada simulasi dengan MS Excel untuk mengira-ngira apabila cicilan bunga kredit rumah naik turun.
Silakan unduh di sini (Jangan Lupa SKIP AD setelah mengklik)

3. Simulasi Anggaran untuk pribadi
Simulasi ini berguna untuk mengetahui pemasukan (income) dan pengeluaran (expense), silakan unduh di sini (Jangan Lupa SKIP AD setelah mengklik)

Melihat Cicilan KPR Lebih Jelas

Oktober 1, 2009 Tinggalkan komentar

Punya rumah merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi setiap orang. Maklum sekecil apapun bentuk rumah, kalau punya sendiri dan tidak ngontrak adalah hasil jerih payah dalam hidup ini. Saat ini merupakan zaman instant. Keinginan membeli rumah lebih mudah dengan sarana pinjaman bank yang disebut dengan KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Kita bisa membeli rumah seharga 100 juta bahkan 500 juta dengan modal 20%-nya saja (20juta bila harga rumah 100juta  dan 100 juta bila harga rumah 500). Sisanya yang 80% akan ditalangi oleh bank. Nah, nilai 80% ini adalah jumlah cicilan yang harus dibayarkan ke bank setiap bulan.

Pada umumnya bunga KPR Bank saat ini sering naik turun setiap bulan sehingga disebut dengan bunga floating. Rumus suku bunga floating atau efektif dihitung berdasarkan saldo pinjaman tersisa. Kadang kala bila kita mendapatkan simulasi perhitungan bunga efektif, kita hanya melihat nilai cicilannya saja sehingga tidak bisa melihat lebih luas apabila terjadi suku bunga yang naik turun.

simulasi KPR dengan excel

simulasi KPR dengan excel

Dengan microsoft excel, saya coba membantu rekan-rekan yang ingin melihat perkiraan simulasi cicilan KPR  secara luas melalui file yang bisa di download di sini. (SKIP AD bila ada iklannya). Rentang bunga dalam simulasi ini antara 5-30% dan jangka waktu antara 5-20 tahun. Tentu saja bunga KPR 5% sepertinya tidak mungkin di negara kita, sedangkan kalau bunga kpr mencapai 20% berarti terjadi krisis keuangan. Semoga bermanfaat.

Mengatur Anggaran Bulanan

September 11, 2009 2 komentar

Mengelola keluar masuk duit memang gampang-gampang susah. Mengapa kita wajib mengelola uang? Karena uang yang masuk dan keluar secara tercatat akan memudahkan kita mengambil kesimpulan maupun keputusan. Dengan demikian di masa mendatang kita tidak terbebani dengan masalah keuangan.

Untuk mengelola keuangan kita perlu mengetahui anggaran atau budget bulanan tentang uang yang kita terima dan uang yang akan dibelanjakan. Sehingga dengan anggaran tersebut, kita bisa mengetahui kelebihan atau kekurangannya.

Berikut ini saya berikan sebuah file Excel mengenai simulasi anggaran keuangan. Silakan mendownload di sini

Semoga bermanfaat.

Pengalaman Investasi di Deposito, Reksadana, dan Saham

September 8, 2009 12 komentar

Setelah mengetahui bahwa aku mempunyai beberapa tabungan di bank, orang tuaku menyarankan mendepositokan beberapa dana yang tidak terpakai. Tahun 1998 adalah tahun krisis moneter. Banyak bank yang tutup akibat penarikan dana besar-besaran. Namun pemerintah turun tangan untuk menjamin dana tabungan nasabah di sejumlah bank. Ketika itu aku ketar-ketir juga kalau dana hasil jerih payahku dari membuat layout cover buku lenyap dalam sekejap. Namun karena bunga deposito saat itu mencapai 50% per tahun, akhirnya aku coba buka deposito di BCA. Toh dana tersebut memang tidak terpakai, lagi pula kalau beli barang-barang konsumsi seperti komputer dan elektronik harganya melejit karena sudah menggunakan kurs dollar amerika. Dana yang kusimpan di deposito berkembang biak setahun, dan beruntung ekonomi mulai pulih sehingga dana yang kusimpan tidak lenyap.

Tahun 2000, bunga deposito rontok satu persatu hingga di bawah 20%. Suatu hari aku membaca iklan di surat kabar, ada investasi seperti deposito namun bunganya di atas deposito. Lalu aku datangi perusahaan tersebut yaitu PT Bahana TCW Investment. Setelah tanya-tanya, aku dapat kesimpulan ternyata produk tersebut adalah reksadana pendapatan tetap Bahana Dana Abadi. Reksadana ini merupakan kumpulan dana masyarakat yang diinvestasikan ke surat obligasi atau surat utang perusahaan swasta atau pemerintah. Lagi-lagi setelah tahun cara buka reksadana, aku jajal lagi ke reksadana saham Bahana Dana Infrastruktur. Ada perumpamaan jangan menyimpan beberapa telur dalam satu keranjang, ini maksudnya adalah jangan menyimpan uang pada satu tempat. Berdasarkan hal tadi, maka aku buka lagi rekening reksadana di Schroeder dan Manulife. Pada saat itu tahun 2000, indeks harga saham gabungan jakarta (IHSG) masih di bawah 1000. Tahun 2005, beberapa reksadana aku “pecah telur” untuk keperluan keluarga. Lumayan hasil investasi dari reksadana melaju sampai 20-30% per tahun.

Setelah menjajal reksadana, ada teman di kantor yang ternyata senang bermain saham kecil-kecilan lewat indofinanz. Memang benar, modal untuk bermain saham cukup besar, seseorang wajib mempunyai dana di atas 20juta. Namun ada perusahaan sekuritas seperti indofinanz yang membolehkan investor menempatkan modal sebesar 5juta (pada tahun 2002). Lagi-lagi aku suka mencoba sesuatu yang belum pernah dialami. Jajal beli saham pertambangan ketika di harga 300-an, jual ketika harga 500-an. Kadang-kadang lagi beruntung, kadang rugi. Ternyata main saham memang membuat jantung berdebar lebih kencang karena perlu mengawasi pergerakkan harga saham, sedangkan aku sendiri tak banyak waktu untuk memonitoring harga saham.

Inti dari pengalaman ini adalah aku berani mencoba suatu produk investasi seperti reksadana dan saham di kala ekonomi belum pulih. Ya tentu saja, dana yang dipakai bukan dana sehari-hari. Aku siap kehilangan uang bila ternyata ekonomi ambruk. Ikhlas saja bila kehilangan uang untuk investasi dan tak perlu senewen. Yang paling penting sekali lagi adalah jangan gunakan uang kebutuhan sehari-hari untuk investasi!

Pengalaman Investasi di Tabungan Bank

September 8, 2009 1 komentar

(beberapa link pada tulisan ini bila di klik akan muncul iklan, silakan SKIP AD di pojok kanan, mohon maklum)

Ada seorang teman sekolah yang orang tuanya adalah pedagang di pasar. Ia bernama Gunawan. Ternyata temanku ini sudah lebih maju. Dia menabung di bank dekat pasar. Setiap dia menabung ada buku tabungan yang mencatat jumlah tabungan yang disebut dengan saldo. Ketika itu aku kelas 6 sekolah dasar. Untuk membuka tabungan di bank, sepertinya wajib mempunyai kartu identitas. Dengan semangat dan rasa penasaran, aku coba mengajukan kartu pelajar di sekolahku. Dengan berbekal kartu pelajar itu, aku coba membuka tabungan di Bank Natin ditemani oleh Gunawan temanku. Senang sekali mempunyai buku tabungan nasional (tabanas) dan merasakan sesuatu yang baru. Hampir tiap minggu, aku datang ke bank untuk setor sisa uang sakuku. Mungkin staf teller di Bank Natin kala itu sampai bosan melihatku datang dengan setoran recehan hehehehe…

Tiap awal tahun, saldo tabunganku bertambah karena ada perhitungan bunga terhadap uang yang kusimpan. Karena sudah tahu cara membuka tabungan di bank, beberapa tahun kemudian, aku buka lagi tabungan di Bank Servitia. Di Bank Servitia, layanannya lebih menarik. Saldonya diketik pakai mesin tik oleh petugas bank. Beberapa tahun kemudian ketika aku memasuki sekolah menengah di sekitar tahun 1990, bank-bank mulai menyediakan hadiah. Tabanas ku yang ada di Bank Servitia berubah wujud menjadi Tabungan Kesra. Wah semakin sering aku menabung, tetapi ga pernah dapat se-sen pun hadiah. Kemudian aku coba buka tabungan berhadiah di lain bank yakni BCA dengan nama Tahapan. Sampai saat ini juga belum pernah dapat hadiah undian, meskipun sudah “tingkatkan terus saldo anda”.

Ketika masuk kuliah di politeknik, lagi-lagi wajib membuka tabungan. Kali ini adalah bank milik pemerintah yakni BNI ’46 di tahun 1992. Tabungan ini hanya untuk bayar kuliah saja. Tiap kali bayar kuliah wajib antri di loket BNI rektorat. Bila kesiangan ngantri, bisa menunggu sampai 2-3 jam untuk bayar ke teller.

Ketika mulai bekerja di sebuah internet service provider, aku iseng-iseng membuat website yang di dalamnya ada beberapa iklan berbayar. Ternyata perusahaan periklanan itu membayar dalam bentuk cek dollar. Beberapa bank yang aku tanyakan seperti BCA dan BNI tidak menerima cek seperti itu. Kemudian aku coba tanya-tanya ke bank lain dan aku menemukan bank BII yang dapat mencairkan cek tersebut. Tentu saja aku wajib membuka tabungan dulu di BII tahun 2000. Lumayan setiap 4 bulan sekali aku dikirimkan cek, sebulan kemudian dana dari cek tersebut sudah ditransfer ke tabungan BII ku. Setelah BII, kemudian aku dapat informasi bahwa Bank Niaga bisa juga mencairkan cek dengan biaya dalam rupiah dan lebih murah dibanding BII.

Inti dari pengalaman ini adalah dengan mempunyai tabungan di bank, aku bisa mendapatkan bunga dari simpanan uang, sekaligus transaksi seperti bayar kuliah, terima uang dari orang lain.

Pengalaman Investasi di Celengan

September 8, 2009 1 komentar

Sejak kecil aku suka menabung. Pertama kali punya tabungan karena dibelikan sebuah celengan ayam oleh mama. Aku mengenal uang sejak masuk sekolah dasar. Aku selalu diberikan uang saku sekitar 10 rupiah sekitar tahun 81. Tiap kali ke sekolah, aku selalu membawa bekal makan dan minum. Uang saku itu boleh untuk jajan, tetapi mama selalu mengajakku untuk memasukkan uang sisa hasil jajan untuk dimasukkan ke celengan ketika pulang sekolah. Mama bilang, nanti kalau liburan sekolah kamu bisa membeli sepeda dari celengan itu. Pertama kali memang senang sekali bisa jajan permen atau kue donat kecil yang banyak gula sagunya. Uang 25 rupiah bisa beli lima roti donat. Namun lama-lama aku bosan jajan, dan akhirnya malah senang menambah berat celengan.

Liburan sekolah tiba, akhirnya aku pecahkan celengan ayam itu. Hasilnya banyak sekali uang receh lima perak dan 25 sama-sama keluar dari celengan itu. Dari celengan itu aku berikan semuanya ke mama untuk dibelikan sepeda. Liburan sekolah diisi dengan bermain sepeda roda tiga bersama teman-teman. Tahun berganti, dan aku mempunyai celengan yang lebih besar lagi. Celengan kucing, kemudian ada lagi celengan dari plastik yang berbentuk rumah. Celengan itu mempunyai kunci pada pintu rumahnya. Nah dengan celengan rumah plastik, praktis tidak perlu lagi untuk memecahkan celengan. Cukup membuka pintu rumah dengan kunci yang disimpan oleh mama.

Inti dari pengalaman ini adalah aku mempunyai keinginan untuk membeli sepeda pada musim liburan sekolah. Keinginan itu terwujud bila aku selalu menabung.