Beranda > Investasi > Pengalaman Investasi di Tabungan Bank

Pengalaman Investasi di Tabungan Bank

(beberapa link pada tulisan ini bila di klik akan muncul iklan, silakan SKIP AD di pojok kanan, mohon maklum)

Ada seorang teman sekolah yang orang tuanya adalah pedagang di pasar. Ia bernama Gunawan. Ternyata temanku ini sudah lebih maju. Dia menabung di bank dekat pasar. Setiap dia menabung ada buku tabungan yang mencatat jumlah tabungan yang disebut dengan saldo. Ketika itu aku kelas 6 sekolah dasar. Untuk membuka tabungan di bank, sepertinya wajib mempunyai kartu identitas. Dengan semangat dan rasa penasaran, aku coba mengajukan kartu pelajar di sekolahku. Dengan berbekal kartu pelajar itu, aku coba membuka tabungan di Bank Natin ditemani oleh Gunawan temanku. Senang sekali mempunyai buku tabungan nasional (tabanas) dan merasakan sesuatu yang baru. Hampir tiap minggu, aku datang ke bank untuk setor sisa uang sakuku. Mungkin staf teller di Bank Natin kala itu sampai bosan melihatku datang dengan setoran recehan hehehehe…

Tiap awal tahun, saldo tabunganku bertambah karena ada perhitungan bunga terhadap uang yang kusimpan. Karena sudah tahu cara membuka tabungan di bank, beberapa tahun kemudian, aku buka lagi tabungan di Bank Servitia. Di Bank Servitia, layanannya lebih menarik. Saldonya diketik pakai mesin tik oleh petugas bank. Beberapa tahun kemudian ketika aku memasuki sekolah menengah di sekitar tahun 1990, bank-bank mulai menyediakan hadiah. Tabanas ku yang ada di Bank Servitia berubah wujud menjadi Tabungan Kesra. Wah semakin sering aku menabung, tetapi ga pernah dapat se-sen pun hadiah. Kemudian aku coba buka tabungan berhadiah di lain bank yakni BCA dengan nama Tahapan. Sampai saat ini juga belum pernah dapat hadiah undian, meskipun sudah “tingkatkan terus saldo anda”.

Ketika masuk kuliah di politeknik, lagi-lagi wajib membuka tabungan. Kali ini adalah bank milik pemerintah yakni BNI ’46 di tahun 1992. Tabungan ini hanya untuk bayar kuliah saja. Tiap kali bayar kuliah wajib antri di loket BNI rektorat. Bila kesiangan ngantri, bisa menunggu sampai 2-3 jam untuk bayar ke teller.

Ketika mulai bekerja di sebuah internet service provider, aku iseng-iseng membuat website yang di dalamnya ada beberapa iklan berbayar. Ternyata perusahaan periklanan itu membayar dalam bentuk cek dollar. Beberapa bank yang aku tanyakan seperti BCA dan BNI tidak menerima cek seperti itu. Kemudian aku coba tanya-tanya ke bank lain dan aku menemukan bank BII yang dapat mencairkan cek tersebut. Tentu saja aku wajib membuka tabungan dulu di BII tahun 2000. Lumayan setiap 4 bulan sekali aku dikirimkan cek, sebulan kemudian dana dari cek tersebut sudah ditransfer ke tabungan BII ku. Setelah BII, kemudian aku dapat informasi bahwa Bank Niaga bisa juga mencairkan cek dengan biaya dalam rupiah dan lebih murah dibanding BII.

Inti dari pengalaman ini adalah dengan mempunyai tabungan di bank, aku bisa mendapatkan bunga dari simpanan uang, sekaligus transaksi seperti bayar kuliah, terima uang dari orang lain.

  1. Oktober 23, 2012 pukul 7:41 am

    Attractive part of content. I simply stumbled upon your web site and in accession capital to claim that I acquire actually loved
    account your blog posts. Anyway I’ll be subscribing on your feeds or even I achievement you get admission to consistently rapidly.

  1. No trackbacks yet.

Silakan tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: